Perdagangan dan Eksploitasi Satwa Liar (by:Siska)
Perdagangan satwa liar di Indonesia menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar, setelah ancaman kerusakan akibat penebangan hutan secara liar. Perdagangan satwa liar menjadi ancaman karena lebih dari dari 95% satwa yang diperdagangkan adalah hasil tangkapan dari alam. Bahkan dapat dipastikan bahwa 100% pimata yang diperdagangkan bukan hasil penangkaran, namun hasil tangkapan dari alam.
Dari beberapa sumber diantaranya Pro Fauna Indonesia, terdapat sekitar 100.000 ekor burung paruh bengkok setiap tahunnya di tangkap dari alam Papua, termasuk diantaranya jenis yang langka seperti kakaktua raja (Probosciger atterimus), nuri kepala hitam (Lorius lory), dan kakatua jambul (Cacatua galerita). Burung ini banyak dikirim ke Jawa dengan menggunakan kapal, termasuk melibatkan anggota militer yang membawa burung ini dari Papua sebagai oleh-oleh.
Penangkapan burung paruh bengkok secara besar-besaran tidak hanya terjadi di Papua, nemun juga di Maluku. Sedikitnya ada sekitar 15.000 ekor burung paruh bengkok yang ditangkap dari alam Maluku untuk diperdagangkan. Bahkan penangkapan kakatua seram (Cacatua molucensis) yang langka juga masih terus terjadi sampai sekarang. Kakatua seram itu ditangkap dari Pulau Seram, Maluku, untuk selanjutnya dikirim ke sejumlah pedagang satwa besar di Jakarta. Burung-burung tersebut banyak di perdagangkan ke Singapura.
Melihat begitu tingginya laju penangkapan satwa liar di alam untuk diperdagangkan, pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap isu ini. Selama bertahun-tahun masalah perdagangan satwa liar di Indonesia menjadi sorotan masyarakat Internasional. Saatnya kini pemerintah Indonesia memberikan perhatian ekstra serius terhadap masalah perdagangan satwa liar yang kian marak.
Satwa liar telah terusik dan terdesak keberadaannya akibat adanya penebangan hutan liar. Mereka terdesak tidak saja karena kehilangan habitat namun juga banyak aktivitas penebangan yang diikuti dengan aktivitas perburuan liar. Satwa liar Indonesia kini mendapat ancaman ganda, yakni rusaknya habitat dan penangkapan untuk diperdagangkan.
Fakta lain yang juga tengah terjadi, yakni orang utan Indonesia yang ada di Thailand. Memang banyak yang mengatakan bahwa Thailand akan mengembalikannya, namun siapa bilang? Thailand hanya bilang bahwa mereka dapat memulangkan ke negara asalnya jika proses hukum telah selesai. Tidak di singgung sama sekali kata-kata Indonesia, padahal negara asal orang utan adalah Indonesia dan Malaysia. Malaysia tidak menanggapi alias diam saja karena Malaysia pintar dalam menjaga perbatasannya sehingga tidak kecolongan.
Indonesia memang telah mengusahakan tes DNA, namun tes itu hanya untuk mengetahui apakah anak-anak orang utan itu dilahirkan di Indonesia atau tidak, bukan untuk mengetahui asal muasal orang utan tersebut. Mulanya diduga bahwa tes DNA tersebut sebagai pijakan untuk polisi Thailand untuk menjerat Indonesia, namun ternyata tidak. Sampai saat ini kasus ini sudah bergulir hampir 3 tahun, namun tetap saja belum ada penyelesaian yang jelas. Inilah yang terjadi di Indonesia, bahwa tidak ada sedikitpun kepedulian dan usaha keras untuk menjaga dan mempertahankan keletarian alam beserta isinya.
Fakta lain yang dapat kita simak adalah maraknya sirkus satwa, apakah ini lucu? Yang ada adalah sirkus merupakan pertunjukan terkejam di muka bumi yang meng-eksploitasi satwa untuk diperdagangkan tingkahnya, padahal hal ini adalah konyol karena merupakan kekejaman terselubung terhadap satwa. Seperti contohnya yang terjadi pada seekor beruang cokelat ketika itu dipaksa untuk melakukan trik yang biasa dilakukan saat pertunjukan, namun beruang tersebut tidak bisa meraih apa yang dilemparkan instruktur. Dengan frustasi dan ketakutan beruang tersebut mencoba mengejar lingkaran besi itu untuk kemudian menangkapnya.
Beruang coklat yang cantik itu tidak akan menyakiti siapapun, namun terkadang ia juga tidak mau tampil di panggung. Tapi apa yang terjadi ketika itu, pemilik sirkus yang konyol dan “sakit” itu memukulnya dengan sebatang besi hingga berteriak dan terluka. Sampai akhirnya beruang tersebut menjadi gila (neurotic) karena kepalanya pernah dipukul hingga membentur tembok kandang. Kejadian itulah yang kemudian mengantarkannya kepada kematian. Sungguh tragis sekali yang terjadi, kematian seekor beruang dianggap lucu dan untuk hiburan bagi sebagian orang yang menggemari sirkus satwa dan menganggapnya acara hiburan.
Sugesti dan kepercayaan bagi sebagian orang bahwa sirkus itu amat menyenangkan, bermanfaat, dan merupakan hiburan bagi keluarga. Bagaimanapun juga kesan gemerlap, yang secara sengaja ditampilkan terus menerus oleh para promotor sirkus akan kehilangan daya tariknya ketika kenyataan yang mengerikan tentang perlakuan sehari-hari terhadap binatang sirkus diketahui.
Berbeda dengan apa yang dikatakan kepada masyarakan secara resmi tentang sirkus. Binatang-binatang sirkus itu tidaklah bahagia, tidak sehat, dan juga tidak diperlakukan dengan kasih sayang dan rasa hormat. Mereka adalah satwa liar, yang dipaksa untuk hidup terkurung, berdesak-desakan, dan dilatih dengan kejam. Mereka dipaksa mempersembahkan sebuah pertunjukan yang memalukan dan merendahkan harga diri mereka, yang kemudian pada waktu tertentu akan membawa mereka kepada kegilaan. Hanya sedikit hukum yang sudah melindungi binatang-binatang ini yang hanya akan menetapkan standar minimum dan pelanggaran-pelanggaran tidak jarang dilakukan oleh para petugas sirkus.
Monyet sering dipukul atau ditendang pada wajahnya. Dan gajah yang dirantai, dipukul dengan gagang kampak ataupun kait sapi. Sering binatang besar ini dipukul dengan benda tajam pada bagian belalai, mulut, kuping, kaki belakang, dan kemudian ditelantarkan sehingga mengalami gangguan syaraf. Kondisi ini dikenal dengan autisme gajah yang bisa disamakan dengan rasa takut dan gugup pada manusia. Beberapa kasus belakangan ini dimana gajah banyak menyerang dan membunuh manusia adalah sebuah akumulasi dari perlakuan kejam selama bertahun-tahun.
Terdapat juga kuda yang tidak mau berlatih, yang kemudian dicambuk pada bagian belakang kuping dan hidungnya. Seperti juga yang dilakukan pada tekhnik untuk melatih singa dan harimau yang amat kejam. Mereka diikat pada alas tempat mereka bertumpu dan tali yang mengelilingi leher mereka sampai tercekik hingga membuat mereka patuh.
Sederhananya, pelatihan terhadap satwa liar untuk menampilkan sebuah pertunjukan yang berbahaya, menyakitkan, dan trik pertunjukan yang memalukan yang sangat berseberangan dengan naluri alami mereka. Cambuk, rantai, kait tajam, pecut beralirkan listrik, hingga obat-obatan yang digunakan untuk menakut-nakuti binatang agar patuh pada pelatihnya. Tentunya yang dikatakan oleh para promotor sirkus berbeda dengan kenyataan kejam yang ada.
Kereta sirkus hanya berhenti beberapa kali untuk memberi kesempatan para binatang beristirahat. Oleh karena itu yang bisa kita lakukan sekarang sebagai manusia dan makhluk ciptaan Tuhan adalah mlindungi sesama termasuk satwa-satwa tadi, yakni dengan memboikot semua sirkus yang menampilkan atraksi satwa dan kirim surat tentang adanya fakta kekejaman terhadap satwa kepada pihak bersangkutan yang berwajib.
Artikel kiriman, SISKA NK


heheheh…. kayaknya sirkus nggak sekejam itu deh. seems u r so emotional. pis^^
Dear Siska,
Bagus saudari Siska menulis artikel satwa liar Indonesia dan Animal Welfare di Indonesia.tidak banyak orang Indonesia sendiri yang peduli terhadap satwa Indonesia,mereka selalu mengeksploitasi satwa itu untuk hobby atau di konsumsi,padahal setiap mahluk hidup punya fungsinya masing-masing di alam maupun bumi ini,bukan dalam kandang maupun jadikan binatang peliharaan,seperti Reptil(ular, dll)mereka senang sekali kalo pelihara ular katanya jagoan lah itulah lah,tapi apa populasi dialam jadi terganggu tikus banyak disawah karena ular sudah tidak ada dan elang pun ilang entah kemana.kalo kita mencintai mereka biarkan mereka di alam dan jangan beli satwa liar karna akan menciptakan pengambilan di alam nya.
mereka tidak bisa bicara tetapi kita bisa bicara untuk mereka